Feeds:
Pos
Komentar

Archive for the ‘Teology & Filsafat’ Category

Ibnu Sina mengatakan, realitas noumenal ‘Aku’ tidak bisa didemonstrasikan melalui citra-citranya, karena citra-citra tidak akan ada dan nyata, dan tidak akan pula difahami kecuali dengan menyadari realitas ‘Aku’ terlebih dahulu. Kendati demikian, Suhrawardi berusaha mendekatkan kehudhurian realitas ‘Aku’ dengan dua argumen. Salah satunya mirip dangan dalil Kierkegaard tersebut dahulu, yaitu jika realitas ‘Aku’ diketahui dengan pencerapan, dengan perantara, dan sebatas fenomena dan refleksi, maka realitas dan noumena ‘Aku’ tidak tersentuh dan berada di luar diri (ghaib). Dengan demikian, realitas ‘Aku’ bukan ‘Aku’, tetapi ‘Dia’, karena ‘Dia’ berarti Yang di luar dan selain diri. Sebuah implikasi yang bertentangan dengan identitas ‘Aku’.

(lebih…)

Iklan

Read Full Post »

Kaitannya dengan fenomena kekeliruan dalam mengartikan dan mengurai konsep, fakta ini tidak semestinya ditafsirkan sebagai pergerakan dan perubahan dari yang keliru ke yang tepat, tetapi difahami adanya dua pengertian; yang pertama keliru dan yang kedua tepat. Adalah keunikan pengetahuan secara umum bahwa ia –tutur Ali bin Abi Thalib as- bukan kekayaan dan benda yang kalau kita pertukarkan terjadi kekurangan dan kehilangan, sedangkan pengetahuan tidak mengalami dan kekurangan tatkala dipertukarkan. Yang terjadi malah pertambahan dan kekayaan dalam arti yang lebih unggul.

(lebih…)

Read Full Post »

Oleh karena itu sama sekali tak beralasan apabila kita menuntut lebih dari realitas yang ada, semua kekurangan dan keutamaan yang terjadi tidak lain karena keberagaman kapasitas eksistensial semua jagat raya. Dan oleh karena Tuhan kausa prima adalah maha pengasih, maha adil dan maha bijak, maka Dia tidak akan enggan memberi sesuai dengan kapasitas penerima.

(lebih…)

Read Full Post »

Islam sebagai agama fitrah beranggapan bahwa ketergantungan manusia terhadap Tuhan pada hakikatnya ketergantungan manusia pada puncak kesempurnaan. Justru ketergantunganya pada Tuhanlah yang menyebabkan ia menemukan hakikat dan jati dirinya, bukan malah lalai pada dirinya sebagaimana anggapan kaum eksistensialis. Dengan ucapan yang lebih ringkas bahwa sewaktu manusia meyakini ketergantungannya pada Tuhan berarti munculnya ketergantungan dan keterkaitan antara diri (baca:pribadi) yang serba kekurangan kepada kepada diri yang sempurna. Sehingga kekurangan tadi bisa ditutupi dengan kesempurnaan tersebut.

(lebih…)

Read Full Post »

Selama ini sejarah filsafat dan teologi tidak penah menyaksikan ateis membawakan argumentasi ketiadaan Tuhan, puncak usaha mereka berhenti pada sesungguhnya tidak ada satu alasanun yang mampu membuktikan keberadaan-Nya. Namun ateis kontemporer semakin cerdik dan mulai berani secara ilmiah melecehkan orang-orang beragama keTuhanan.

(lebih…)

Read Full Post »

Dimanakah Allah?

Pertanyaan “Dimanakah Allah?” adalah pertanyaan salah yang tidak perlu terhadap jawaban, bahkan tidak memiliki jawaban sama sekali. Pertanyaan yang salah harus diluruskan terlebih dahulu, bukan dijawab. Karena memaksaan diri untuk memberi jawaban dari pertanyaan yang salah akan mengarah kepada jawaban yang salah pula. Ini pun merupakan salah satu bukti akan keotentikan hukum kausalitas.

  (lebih…)

Read Full Post »

Maka filsafat adalah salah satu jalan yang menawarkan rasionalitas-burhani sebagai pilihan untuk menemukan makna hidup dan membangun pandangan dunia. Ia adalah kerangka interpretatif yang menitiskan beragam jawaban akan pertanyaan asasi eksistensialis. Demikian halnya dengan agama, agama pun memaknai realitas dengan ajaran wahyuninya, namun akal dan rasionalitas bukan satu-satunya jalan yang dikehendaki oleh agama. Dogma agama, senantiasa mensyaratkan iman bagi setiap pemeluknya, bahkan pada beberapa pembacaan atas agama, dimensi akliah manusia malah kudu dinafikan terlebih dahulu sehingga lantas bisa beranjak pada keluhuran derajat iman.

 

  (lebih…)

Read Full Post »