<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Nonkontradiksi dan Identisitas: Dua Prinsip dalam Epistemologi Islam</title>
	<atom:link href="http://islamsyiah.wordpress.com/2008/04/25/nonkontradiksi-dan-identisitas-dua-prinsip-dalam-epistemologi-islam/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://islamsyiah.wordpress.com/2008/04/25/nonkontradiksi-dan-identisitas-dua-prinsip-dalam-epistemologi-islam/</link>
	<description>Meluruskan Pemahaman Tentang Islam Syi'ah Imamiyah Itsna 'Asyariyah (Jakfary)</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Dec 2009 18:32:56 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: Vendra Dj</title>
		<link>http://islamsyiah.wordpress.com/2008/04/25/nonkontradiksi-dan-identisitas-dua-prinsip-dalam-epistemologi-islam/#comment-230</link>
		<dc:creator>Vendra Dj</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 08:13:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamsyiah.wordpress.com/?p=45#comment-230</guid>
		<description>Tidak ada pengetahuan awal yang sedia jadi dimiliki oleh manusia saat ia lahir. Fitrah bukan pengetahuan sedia jadi yg sudah dimiliki manusia, seperti halnya pengetahuannya tentang mustahilnya bertemu dua hal yang kontradiksi. Karena fitrah yang ada pada manusia adalah wadah kesiapan/potensi untuk mengerima aktualitas, termasuk pengetahuan. sebagai caontoh, Seorang bayi tidak akan mengetahui bahwa &#039;mustahil keseluruhan diliputi oleh bagaian-bagiannya,&#039; meskipun proposisi ini universal dan aksiomatik.. pengetahuan manusia akan sampai kepadanya saat ia mulai berproses dan bersentuhan dengan penggambaran/konsep apa itu sebagian? apa itu keseluruhan?.  Setelah deferensiasi tersebut ia temukan, dan memperbandinngkan hubungan antara kedua konsep tersebut (keseluruhan dan sebagaian), maka baru ia sampai pada kesimpulan kemustahilan bagi bagian-bagian meliputi keseluruhan &quot;baik sebagai proposisi, maupun acuan rill realitas eksternalnya. Sekali lagi, tidak ada pengetahuan sedia jadi pada manusia, fitra merupakan komposisi penciptaan yang dengannya mewadahi kesiapan/ potensi manusia utk menerima bentuk-bentuk aktual, seperti halnya pengetahuan...

--------------------------------------------------

&lt;strong&gt;Islam Syiah:&lt;/strong&gt;
Kita berbicara dalam koridor Islam khan? Di Islam fitrah bukan kumpulan potensi, tetapi dia adalah realita aktual. Jika benar yang anda anggap tentang fitrah maka apa kata Allah dan RasulNya itu tidak benar bahwa manusia tercipta &#039;atas dasar fitrah&#039;. Jadi fitrah itu realita aktual, versi Quran dan hadis, bukan hanya kumpulan potensi. Salah satu pengejawantahan fitrah ini adalah apa yang disebut dalam logika dan filsafat dengan ilmu hudhuri. Salah satu bentuk contoh konkrit dari ilmu itu adalah tentang eksistensi (keberadaan) yang mustahil bercampur dengan ketiadaan. Karena ada dan tiada adalah dua hal yang kontradiktif, mustahil bersatu. Bayi akan mencari tetek ibunya karena ia meyakini eksistensi tetek ibu, dan menghisap ASI karena mengetahui eksistensinya. Dan akan mencari tetek dan menghisap ASI di saat dia lapar karena dia merasa dan ingin minum karena lapar dan dahaga. Itu karena dia tahu bahwa ada eksistensi yang bernama lapar, dahaga, ASI, tetek ibu...dst. Atas dasar apa ia mengetahui? Ilmu hudhurinya yang terpancar dari fitrah. Jadi fitrah bukan 100% potensi. Ini belum lagi kalau kita mau kaitkan dengan ilmu hudhuri berkaitan dengan eksistensi Tuhan (konsep fitrah tauhid) yang sudah diketahui manusia sebelum kelahirannya di dunia yang biasa disebut sebagai alam dzar....  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tidak ada pengetahuan awal yang sedia jadi dimiliki oleh manusia saat ia lahir. Fitrah bukan pengetahuan sedia jadi yg sudah dimiliki manusia, seperti halnya pengetahuannya tentang mustahilnya bertemu dua hal yang kontradiksi. Karena fitrah yang ada pada manusia adalah wadah kesiapan/potensi untuk mengerima aktualitas, termasuk pengetahuan. sebagai caontoh, Seorang bayi tidak akan mengetahui bahwa &#8216;mustahil keseluruhan diliputi oleh bagaian-bagiannya,&#8217; meskipun proposisi ini universal dan aksiomatik.. pengetahuan manusia akan sampai kepadanya saat ia mulai berproses dan bersentuhan dengan penggambaran/konsep apa itu sebagian? apa itu keseluruhan?.  Setelah deferensiasi tersebut ia temukan, dan memperbandinngkan hubungan antara kedua konsep tersebut (keseluruhan dan sebagaian), maka baru ia sampai pada kesimpulan kemustahilan bagi bagian-bagian meliputi keseluruhan &#8220;baik sebagai proposisi, maupun acuan rill realitas eksternalnya. Sekali lagi, tidak ada pengetahuan sedia jadi pada manusia, fitra merupakan komposisi penciptaan yang dengannya mewadahi kesiapan/ potensi manusia utk menerima bentuk-bentuk aktual, seperti halnya pengetahuan&#8230;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Islam Syiah:</strong><br />
Kita berbicara dalam koridor Islam khan? Di Islam fitrah bukan kumpulan potensi, tetapi dia adalah realita aktual. Jika benar yang anda anggap tentang fitrah maka apa kata Allah dan RasulNya itu tidak benar bahwa manusia tercipta &#8216;atas dasar fitrah&#8217;. Jadi fitrah itu realita aktual, versi Quran dan hadis, bukan hanya kumpulan potensi. Salah satu pengejawantahan fitrah ini adalah apa yang disebut dalam logika dan filsafat dengan ilmu hudhuri. Salah satu bentuk contoh konkrit dari ilmu itu adalah tentang eksistensi (keberadaan) yang mustahil bercampur dengan ketiadaan. Karena ada dan tiada adalah dua hal yang kontradiktif, mustahil bersatu. Bayi akan mencari tetek ibunya karena ia meyakini eksistensi tetek ibu, dan menghisap ASI karena mengetahui eksistensinya. Dan akan mencari tetek dan menghisap ASI di saat dia lapar karena dia merasa dan ingin minum karena lapar dan dahaga. Itu karena dia tahu bahwa ada eksistensi yang bernama lapar, dahaga, ASI, tetek ibu&#8230;dst. Atas dasar apa ia mengetahui? Ilmu hudhurinya yang terpancar dari fitrah. Jadi fitrah bukan 100% potensi. Ini belum lagi kalau kita mau kaitkan dengan ilmu hudhuri berkaitan dengan eksistensi Tuhan (konsep fitrah tauhid) yang sudah diketahui manusia sebelum kelahirannya di dunia yang biasa disebut sebagai alam dzar&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Andri Indrawan</title>
		<link>http://islamsyiah.wordpress.com/2008/04/25/nonkontradiksi-dan-identisitas-dua-prinsip-dalam-epistemologi-islam/#comment-169</link>
		<dc:creator>Andri Indrawan</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 09:30:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://islamsyiah.wordpress.com/?p=45#comment-169</guid>
		<description>jika pada manusia sudah ada pengetahuan awal, yang dengannya kita dapat memahami dunia ini, maka pengetahuan itu dari mana? bawaaan? atau bisikan? dan mohon maaf, mungkin karena terlalu banyak bahasa yang kurang familiar dengan saya, sedikit kesulitan untuk mencerna. pernyataan adanya pengetahuan awal itu merupakan kesimpulan juga bukan? lalu apa itu berpikir? apa bedanya berpikir dengan kerja otak?

-------------------------------------------------------------
&lt;strong&gt;
Islam Syiah:&lt;/strong&gt;

Pengetahuan awal yang dimiliki oleh setiap manusia itu bersifat &#039;fitri&#039;. Paling tidak manusia tahu bahwa &#039;diri&#039;-nya &#039;ada&#039;. Pengetahuan akan keberadaan dirinya mustahil bergabung dengan ketiadaan dirinya, karena ketiadaan dan keberadaan tidak mungkin bertemu pada satu obyek, di satu waktu dan di satu sudut pandang dan satu proposisi. Jadi, secara fitrah penciptaan manusia, ia telah mengetahui kemustahilan sesuatu yang paradox. Untuk itu, setiap argumentasi rasional yang ingin ditegakkan oleh setiap manusia harus tidak boleh berakhir pada paradoksi pemikiran, karena itu di luar fitrah manusia.  </description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>jika pada manusia sudah ada pengetahuan awal, yang dengannya kita dapat memahami dunia ini, maka pengetahuan itu dari mana? bawaaan? atau bisikan? dan mohon maaf, mungkin karena terlalu banyak bahasa yang kurang familiar dengan saya, sedikit kesulitan untuk mencerna. pernyataan adanya pengetahuan awal itu merupakan kesimpulan juga bukan? lalu apa itu berpikir? apa bedanya berpikir dengan kerja otak?</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<br />
<strong><br />
Islam Syiah:</strong></p>
<p>Pengetahuan awal yang dimiliki oleh setiap manusia itu bersifat &#8216;fitri&#8217;. Paling tidak manusia tahu bahwa &#8216;diri&#8217;-nya &#8216;ada&#8217;. Pengetahuan akan keberadaan dirinya mustahil bergabung dengan ketiadaan dirinya, karena ketiadaan dan keberadaan tidak mungkin bertemu pada satu obyek, di satu waktu dan di satu sudut pandang dan satu proposisi. Jadi, secara fitrah penciptaan manusia, ia telah mengetahui kemustahilan sesuatu yang paradox. Untuk itu, setiap argumentasi rasional yang ingin ditegakkan oleh setiap manusia harus tidak boleh berakhir pada paradoksi pemikiran, karena itu di luar fitrah manusia.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
